Permintaan Plastik Kemasan Melonjak di Masa Pandemi, Kebijakan Pelarangan Tak Efektif?

Walau epidemi menghalangi bermacam kesibukan. Tidak begitu perihal dengan pemasaran plastik paket. Permohonannya bertambah relevan walau telah ada kebijaksanaan larangan pemakaian plastik sekali gunakan di sejumlah wilayah. Termasuk juga propinsi dki jakarta per 1 juli 2020.

 

 

Direktur paket grup wahyudi sulistya menjelaskan. Kemampuan produksi pabriknya selama saat epidemi makin bertambah 2x lipat. Dia bukan hanya menghasilkan polistirena alias styrofoam dan juga bubble wrap yang semakin banyak dipakai untuk membungkus produk yang diantar melalui pesan antar.

“sebelum epidemi. Mesin itu mentok kerja nonstop sampai dua minggu. Saat ini. Tidak ada hari libur juga. Masih nambah mesin.” kata wahyudi dalam webinar ‘apakah single use plastic ban jalan keluar dari permasalahan lingkungan di indonesia?’. Rabu. 30 september 2020.

Salah satunya pemicunya ialah kebijaksanaan takeaway yang diperkenankan di waktu epidemi. Untuk mengepak produk. Sebagian besar produsen masih pilih plastik sebab tambah murah antara paket yang lain. Plastik dipandang paling aman serta higienis dan dapat membuat perlindungan makanan atau minuman didalamnya.

 

“pada keadaan sekarang ini. Ekonomi turun semua. Daya membeli warga yang turun. Mereka akan membeli yang termurah. Aman serta higienis.” kata wahyudi.

 

Di lain sisi. Dia menyebutkan produksi plastik paket termasuk ramah lingkungan sebab memakai energi semakin sedikit dibanding produksi paket yang lain. Dia mengatakan plastik yang dapat terurai tidak dapat disebutkan ramah lingkungan jika cuman dipakai sekali gunakan.

 

“plastik itu dibuat pertama-tama untuk digunakan berkali-kali.” sambung ia. Karena itu. Ia menyebutkan kebijaksanaan larangan pemakaian plastik sekali gunakan tidak efisien untuk mendesak permasalahan lingkungan. Yang dibutuhkan ialah memisah serta mendaur lagi plastik paket supaya usia pakainya panjang.

 

Disamping itu. Jessica hanafi. Technical ahli life cycle indonesia. Menjelaskan dengan mencuplik studi yang diuraikan unep 2020. Tas berbelanja yang dapat dipakai berkali-kali tidak dapat automatis disebutkan tas ramah lingkungan. Barang itu harus dipakai beberapa puluh kali terlebih dahulu untuk penuhi persyaratan itu.

 

Tas berbelanja memiliki bahan katun. Contohnya. Harus dipakai 50–150 kali terlebih dahulu supaya berefek negatif pada lingkungan bertambah rendah dibanding plastik paket sekali gunakan. Sesaat. Tas berbelanja memiliki bahan polipropilen harus dipakai seidaknya 10–20 kali supaya efek lingkungannya sama dengan plastik paket sekali gunakan.

 

Paling akhir. Tas berbelanja memiliki bahan polietilen yang makin tipis dapat berefek bertambah positif pada lingkungan dibanding paket sekali gunakan jika dipakai 5–10 kali. Simpulannya. Tas-tas berbelanja itu harus mempunyai ketahanan yang lebih bagus supaya waktu pakainya semakin lama.

 

“customer diharap memakai kembali lagi tiap tas berkali-kali. Jangan sebab jemu. Selanjutnya tas belanjanya dibuang demikian saja. Membeli lagi yang baru.” katanya.

 

Banyak jalan keluar yang ditawarkan untuk kurangi sampah plastik. Diantaranya daur lagi. Belakangan ini. Timor leste bisa menjadi negara pertama di dunia yang mendaur lagi semua sampah plastiknya. Seperti dikutip dari the university of sydney.

 

 

Updated: January 14, 2021 — 3:16 pm

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *